21
Mei
07

Cerita pertambangan biji besi di Kabupaten Kotabaru

 

“sekarang terus merugi, tambak saya seluas dua petak atau enam hektare di muara Sungai Bali, saat ini sama sekali tidak menghasilkan”.

Sebuah rintihan dari seorang H Mat Pigau (46) seorang penambak dari Desa Sungai Bali, yang memulai usaha sejak tahun 1986 dan telah menikmati berkahnya dengan naik haji tahun 1997 dan telah menguliahkan anaknya di Makasar. Dia merupakan seorang dari sekian banyak penambak yang resah sejak adanya pertambangan biji besi PT Silo di Pulau Sebuku. (B.Post, 06/01/2006)

Dimana pulau Sebuku berada ? Seandainya kamu punya peta Kalimantan atau Kalsel, coba deh liat di pojok kiri bawah. Disana terliat 2 pulau, yang besar namanya Pulau Laut sedangkan yang kecil itulah Pulau Sebuku.

Pulau Sebuku merupakan sebuah pulau kecil dengan luasan 225,5km2, secara administratif pemerintahan berada di Kabupaten Kotabaru Propinsi Kalimantan Selatan. Disitulah sekarang ini terjadi aktivitas pertambangan biji besi dilakukan untuk pertama kalinya di Kabupaten oleh sebuah perusahaan pertambangan.

Perjalanan ke Pulau ini butuh waktu yang panjang, seumpamanya kamu dari Banjarmasin, dimulai dengan naik angkutan darat ke Batulicin butuh waktu 4-6 jam. Tapi itu dulu, ngak tau sekarang karena kabarnya jalannya udah ancur-ancuran akibat sering dilalui angkutan batubara dan sawit yang bawaannya melebihi kekuatan jalan. Batulicin merupakan sebuah kota yang berada di Kabupaten Tanah Bumbu. Perjalanan kemudian bisa dilanjutkan melalui laut, bisa naik speed boat maupun naik ferry, bedanya kalau naik speed kita akan sampai di ibukota Kabupaten Kotabaru, tetapi kalau Ferry kita harus melewati jalan darat sekitar satu jam untuk sampai ke ibukota kabupaten tersebut. Dari Kotabaru perjalanan dilanjutkan kembali melalui jalan darat menuju desa Sungai Rangas dimana mangkal speedboat yang biasanya mengangkut penumpang ke Pulau Sebuku, baru setelah itu kita mengarungi selat laut. Ada 3pintu masuk ke Pulau ini, yaitu desa Sungai Bali, Kanibungan maupun Sekapung. Tarifnya jelas beda karena dipengaruhi oleh lamanya perjalanan.

Pulau ini dihuni sekitar 5000 jiwa. Mereka merupakan pendatang yaitu dari suku Banjar yang umumnya orang daerah hulu Sungai, Suku Bugis dan Bajau. Kata penduduk setempat dulunya ada penduduk asli yang mereka sebut “orang pulau”. Namun setelah penduduk pendatang makin banyak menghuni pulau ini penduduk asli menghilang entah kemana. Sampai sekarang penduduk pendatang sudah mencapai turunan kelima.

Pola pemukiman mereka pun menunjukkan karekter penduduk Sebuku, di daerah Pantai didominasi oleh Bajau, kemudian agak kedalam didominasi oleh orang bugis dan ditengah didominasi oleh orang Banjar.

Bajau kerjanya Nelayan, Bugis kerjanya juga nelayan dan sedikit bertani dan berternak (perairan dan darat) dan banjar Bertani. Begitu sih umumnya.

Kembali ke cerita inti, mengenai pertambangan biji besi disana. Pertambangan dilakukan oleh sebuah perusahaan nasioal, PT. Silo nama perusahaan tersebut.

PT. SILO (Sebuku Iron Lateritic Ores) merupakan sebuah perusaan yang bergerak di industri pertambangan besi dan industri baja. PT. Silo bukanlah perusahaan yang pertama kali mengeruk sumber daya alam di Pulau Sebuku, namun sudah ada dua perusahaan pendahulunya.

Diawali oleh penebangan kayu oleh PT. Inhutani II, perusahaan ini memiliki konsesi (itu lo.. hak melakukan “pengelolaan” hutan ) satu pulau penuh. Penebangan dihentikan setelah kayu habis sekitar tahun 80-an.

Setelah kayu habis, eksloitasi sumber daya alam terus berlanjut dengan datangnya PT. Bahri Cakrawala Sebuku. Sebuah perusahaan pertambangan dari negeri Australia. Mereka mengerukan rawa dan mangrove untuk mendapatkan batubara. Tidak cuma di lahan milik masyarakat yang di obok-obok, tapi kawasan Cagar Alam pun dihajar. Perusahaan ini diberi pemerintah 50% dari pulau Sebuku atau 11.980 Ha. Aktivitas perusahaan dimulai pada tahun 1996 dan sampai sekarang masih bekerja. Pengiriman pertama hasil bumi Sebuku dilakukan pada tahun 1998.

Tahun 2000 SILO masuk kepulau ini dan mulai melakukan pengerukan pada tahun 2004. Mereka di beri pemerintah lahan seluas 9.000 Ha untuk diambil biji besinya.

Kalau dihitung-hitung luasan PT. BCS dan PT. Silo maka lahan yang tersisa hanyalah kurang dari 7% dari total luas pulau atau 1.570 Ha. Lahan seluas itulah yang dimanfaatkan sekitar 5.000. Itu belum dikurangi Cagar Alam, Gunung Batu dan lahan yang tidak bisa digunakan.

PT. Silo tidak menyia-nyiakan lahan yang diberikan pemerintah. Mereka terus mengeruk 24 jam perhari dan 7 hari perminggu. Sehingga mereka sanggup mengambil 2000-2500 ton perhari atau 2 juta ton pertahun yang siap mereka bawa ke Cina dan PT. Krakatau Steel

PT. Silo di pulau ini mengambil Laterite Ore (biji besi) yang didalamnya mengandung besi 56%, silikon, aluminium, Cromim dan Nikel. Di Pulau ini di perkirakan memiliki 500 juta ton. (Profil PT. Silo, 03/12/94)

Sudah pada tahu belum seperti apa bentuk biji besi, nah kalau belum tahu saya akan ceritakan sedikit. Biji besi berbentuk bongkahan dan serbuk. Nah yang di Pulau Sebuku berbentuk serbuk. Serbuk biji besi terdapat sampai di top soil tahah, jadi mau ngak mau terpaksa mereka keruk semua tanah untuk kemudian dipisahkan. Tidak seperti tambang barubara, tanah atasnya dikupas lalu batunya diambil.

Lalu bagaimana ya cara mereka menutup bekas galian tersebut, kalau semua tanahnya diambil. Dari mana mereka mencari tanah untuk menutup bekas galian tersebut jika tanahnya tidak ada, wah bisa akan banyak danau dong di Pulau ini.

Keberadaan pertambangan di Pulau ini oleh masyarakat dirasakan beragam. Ada yang H2C (Harap-harap cemas maksudnya), ya gitu. H2C kaya mendadak karena akan dapat uang ganti rugi gusuran lahan dan kebun, H2C tidak nganggur lagi karena ada peluang kerja, H2C ada tambahan pendapatan bagi aparat desa. Dan masih banyak rasa lainnya. Termasuk kecemasan yang di utarakan oleh Pa’haji Mat Pigau seperti yang kami ceritakan diatas.

Ternyata Pa’ Haji tidak sendiri, Pa’ Andi Abdurahman (56) juga memiliki nasif yang sama. Padahal dia menggeluti pekerjaan tersebut sejak 1983 ini. Kata dia, ini pengalaman pertama. Sejak ia jadi penambak menemui air kolam berubah warna menjadi kuning dan keruh, banyak ikannya yang mati.”Kalau penyebabnya hingga saat ini kami tidak mengetahui dengan pasti, yang jelas kata orang ini karena pencemaran limbah”.

Tapi kemungkinan itu bisa saja terjadi, karena sejak PT SILO beroperasi di daerah ini, air tambak berubah disusul dengan ikan yang tidak mau besar dan mati,”katanya. Memang terlihat air laut berwarna kuning akibat edapan lumpur berwarna merah pekat, saat air surut lumpur muncul ke permukaan sekitar 500 meter sepanjang pantai dan 30 meter ke lepas pantai. Menurut masyarakat hal ini mulai terjadi setelah pelabuhan biji besi ini berfungsi. (B.Post 16 januari 2006)

Hal juga yang dirasakan oleh nelayan pencari Nener terbesar ketiga di Indonesia tahun 1980. Mereka memulai usaha sejak 1970 namun setelah beroperasinya PT. SILO mereka mulai kesulitan mendapatkan bibit nener (bibit bandeng) dan benur (bibit udang windu). (B. Post, 20 januari 2006).

Namun keresahan para petambak dan nelayan tersebut ditanggapi sinis oleh sang kepala desa Sungai Bali A Said HR. Kata dia “isu limbah pencemaran yang belum terbukti sehingga tidak usah dibesar-besarkan, karena memang belum ada pembuktian dari hasil penelitian ilmiah dari pihak terkait”. Dan menanggapi menurunnya penghasilan petambak dan nelayan sekitar dua tahun terakhir, karena memang sebagian tambak mulai ditinggalkan dan penghasilan nelayan menurun karena mahalnya operasional saat melaut pasca kenaikan BBM. Ia justru resah jika perusahaan tersebut pergi, karena menurut dia 75 persen warganya bekerja pada perusahaan tersebut.

Pro kontra ini disikapi oleh anggota Komisi C DPRD Kotabaru H Syahiduddin SAg. Dia  kemudian menyiapkan tim untuk meninjau langsung ke lokasi untuk mengetahui secara pasti permasalahan di sana. (B.Post 23 Januari & Radar Banjarmasin 25 Januari).

Datanglah Ir Suhaili Asmawi MS, dari Fakultas Perikanan beserta tim penyelamnya untuk melihat kondisi sebenarnya di pulau tersebut. Dari hasi penyelaman mereka menemukan biji besi di perairan tersebut. Dia mengatakan air laut berwarna merah akibat pencucian besi sulfat. Namun dia membantah keresahan masyarakat “Sementara, anggapan menurunnya jumlah nener dan benur di lokasi tersebut kemungkinan karena berkurangnya kelimpahan larva,” jelasnya.

Dia juga mematahkan keresahan penambak “Masalah, pertumbuhan ikan bandeng kurang baik di kawasan tersebut, menurutnya, hanya karena rendahnya ketersediaan makanan yang cocok bagi bandeng sebagai akibat daya dukung lahan sudah mulai berkurang. (B.Post 10 Maret 2006). (radarbanjarmasin 11 Maret 2006).

Penjelasan sang dosen seperti ini “Banyaknya bandeng yang mati pada beberapa tahun ini karena sudah rusaknya tambak itu sendiri, yang diakibatkan oleh amoniak dan asam sulfida yang tinggi. Sehingga bandeng yang berada dalam tambak tersebut mati. “Amoniak dan asam sulfida ini tercipta dari pembusukan tumbuhan yang berada dalam tambak tersebut. Akibatnya, ikan yang berada dalam tambak tersebut mati karena kadarnya sudah tinggi dan sangat membahayakan bagi ikan itu sendiri,” Pembusukan itu terjadi sebagai akibat dari proses pengeringan tambak yang kurang maksimal, sehingga tanaman yang mati tersebut masih belum terurai secara sempurna. Kemudian oleh petani tambak langsung diisi lagi dengan air, sehingga saat berada dalam air, tanaman yang belum sempurna terurai tersebut menyebabkan adanya anomiak dan asam sulfida.

Mengenai pertumbuhan bandeng yang kurang baik pada tambak masyarakat dia berpendapat karena rendahnya ketersediaan makanan yang cocok bagi bandeng. Itu terjadi karena daya dukung lahan tambak yang sudah mulai berkurang.(Radar Banjarmasin 15 Maret 2006).

Sebenarnya kami jadi bingung, bukan bingung pada penjelasan sang dosen. Tapi mengenai penambak, masa Pa’ Andi Abdurahman yang menggeluti penambakan sejak 1983 atau lebih dari dua dasa warsa belum bisa juga melakukan pengeringan.

Sekali lagi saya bingung…..
Seandainya saja hal yang sama dia lakukan berarti Pa’Andi dalam 20 tahun belakangan mengalami kerugian terus ya….tapi kan tidak. Atau pa’Andi sudah pikun sehingga salah melakukan pengeringan…ha..ha…tanya kenapa ???

Cerita lainnya mengenai kondisi biji besi yang ditambang PT. Silo. Ternyata kadar Fe (besi) tidak seperti semula digembor-gemborkan mereka. Ketika mereka menjual ke Cina ternyata yang bisa dikomersilkan cuma 20% saja, ini dikarenakan kadar Fe dibawah 50% sehingga tidak memenuhi standar Internasional. Dengan kondisi inilah maka perusahaan kemudian berencana membangun pabrik pellet di Pulau Sebuku. Harapannya sih mampu memproduksi 2 juta ton per tahun, dan diprediksi akan terlaksana sekitar tahun 2008. Harapan lainnya bisa mengurangi ketergantungan pellet kepada luar negeri. “Saat ini 100 persen kebutuhan pellet Indonesia di import dari luar negeri seperti Brazil, Swedia dan India,” ujar Effendi,Tios, President Direktur PT SILO (Radar banjarmasin 28 Maret 2006).

Benarkah alasan mereka tersebut sehingga ingin membangun pabrik. Namun jika melihat perpetaan pertambangan biji besi di Kalimantan selatan pasti kamu akan berpendapat lain. Atau melihat dokumen uji laboraturium dari Superintending Company of Indonesia atau lebih dikenal dengan nama Sucofindo dan Sertifikat Uji Laboraturium dari laboraturium Kimia PT. Krakatau Steel (lihat di http://www.sebukuiron.co.id/).

Nanti deh kami ceritakan mengenai perpetaan pertambangan biji besi di Kalsel.
Pokoknya seru, tunggu saja.
Tentunya juga cerita tentang perkiraan dampak pembangungan pabrik terhadap kehidupan di sekitar pulau dan laut tempat bergantungnya para nelayan.
Ceritanya seperti apa.
Terus buka blog kami !!!


12 Responses to “Cerita pertambangan biji besi di Kabupaten Kotabaru”


  1. 1 ikbal kasim
    Juli 17, 2007 pukul 11:40 am

    salam lestari!!!
    saya turut prihatin dengan nasib masyarakat penambak. khususnya pak haji dan pak andi akibat ulah perusahaan yang rakus. hanya saja saya berharap nasib pak andi dan pak haji tidak terulang di kampung kami, sebab di sulawesi tengah tepatnya di masyarakat kecamatan Tojo kabupaten Tojo Una-una saat ini menghadapi kasus yang sama terkait rencana eksploitasi tambang biji besi oleh PT. INA International Coorporation seluas 60.000 Ha. hanya saja komunitas di tojo lebih banyak bertani dan nelayan. ada sekitar 9 desa, 2 desa berada di dalam blok konsesi selebihnya berada tepat dibagian hilir (peisir pantai), dengan tingkat kemiringan topografinys sekitar 40derajat.
    saat ini, kami baru bisa menyampaikan ke komunitas beberapa fakta kasus tambang (kasus buyat dll) sekaligus merencanakan untuk mengagendakan training CO untuk memperkuat advokasi rakyat di 9 kampung. kekurangannya, informasi tersebut tidak konsern dengan konten tambang biji besi itu sendiri. bagusnya, masyarakat sudah faham dan mengerti tentang bahaya ekologi jika perusahaan tambang beroperasi.
    bisa dipastikan kasus yang menimpa pak andi dan pak haji kabupaten kota baru juga akan terjadi di 9 kampung di bagian timur sulawesi tengah.
    olehnya, kami berharap kawan-kawan bisa menshare informasi terkait corak dan dampak buruk tambang biji besi seperti kondisi yang terjadi di wilayah kawan-kawan.

    itu dulu dari saya,

    salam

    ikbal kasim

  2. 2 komunitassumpit
    Agustus 8, 2007 pukul 10:09 am

    salam lestari,

    kami senang sekali kawan ikbal bisa memberikan komentar pada cerita-cerita kami.

    Memang saat ini baru sedikit cerita yang bisa kami kabarkan, ini dikarenakan keterbatasan dari kami dalam menggali cerita dari daerah lain di kalimantan selatan.

    Kami sebenarnya menyajikan dua contoh kasus berbeda yaitu pertambangan yang dengan dengan laut dan yang lainnya dari pegunungan yaitu pada tulisan ditanah laut. Serta sedikit menceritakan mengenai perlawanan menahan masuknya pertambangan biji besi di kawasan Adat Dayak Pitap. Dan beberapa tulisan juga kami persiapkan mudahan tidak lama lagi akan segera kami share.

    Maaf kami hanya bisa berikan dukungan moril kepada anda dan masyarakat kecamatan Tojo yang sedang berjuang. Salam buat mereka dan kawan-kawan di Sulteng

  3. 3 Juriah
    Mei 7, 2008 pukul 1:56 pm

    Saya sangat terenyuh membaca berita tentang pulau sebuku yg sangat memprihatinkan..
    Krn ke Dua Orang Tua, Kakek-Nenek Saya Asli sebuku, sy lahir juga d sebuku/d desa sarakaman tepatnya.
    Malahan smua Acil2 & Paman2 +Saudara2 Spupu smua msh d sarakaman,cm Miss communiKC.
    Krn sy sdh 15 thn kluar kampung, skrg sy menetap d sul-sel,tepatx kota palopo.
    Membaca cerita membuat sy sngt rindu kampung halaman & ingin pulang.. Rindu dgn pulau gatah (kebun karet)
    Tp apakah masih ad? Atw sdh brubah jadi danau?!
    Ironis…

  4. 4 Juriah
    Mei 7, 2008 pukul 2:19 pm

    Salam sjahtera.
    Lg ni dgn ijur.:-)
    Mas Ikbal mohon infox jg tentang masyarakat yg pKerjaanx manuruh (penyadap phn karet)
    Ap msh ad yg manurih? (Khususx di Desa Sarakaman tangah)
    Atw krn ada Tambang jdx masyarakat d sana sdh pada jual tanah/kena gusuran?
    Tingkat qsejahteraan masyarakat sarakaman khusus bgaimana?
    Ap taraf hidup mreka sdh di atas rata2/sejahtera?
    Atw malah jd sengsara krn adx tambang?
    Jk skirax ini bkn komentar tp lbh kpd prtanyaan, Maaf Mas ikbal y..
    (Maklum lm tdk plg kampung :-D)
    Trima ksh.

  5. 5 Ifit
    Mei 23, 2008 pukul 6:35 am

    Kalo..mnurut saya..
    Dgn adanya prusahaan biji besi di sebuku..malah mengangkat prekonomian di sana.
    Knp saya brpikir demikian?
    Toch..masyarakat yg kena penggatian lahan..malah enjoy aja.
    Belum lg putra daerah yg nganggur akhirnya bisa kerja.!
    Saya yakin.! Andai ada foting.! Dari hasil suara 75% lebih bnyk yg pro.
    Mungkin Mereka jg sempat mmikirkan dampaknya!
    Yg mungkin kt tdk mengetahui.
    He.he.he
    wasallam.

  6. 6 Zorro
    Mei 23, 2008 pukul 6:57 am

    Menanggapi komentar ibu/nona juriah.
    Bicara masalah taraf hidup,kyk nya saya tdk spendapat dgn anda..maaf.!
    Perlu kt ulang.!
    Apakah sbelum ada tambang, taraf hidup mereka mapan/sbaliknya?
    Adakah unsur paksa’an dari pihak prusahaan..ke pada masyarakat agar menyerahkan lahan mereka.
    Mungkin sbaliknya.!
    Mereka berangan2 agar lahan mereka jg kena gusuran! Bukan begitu?
    Saya bicara brdasarkan logika.
    Saya memang bukan anak sebuku. tapi Saya sempat jalan2 kesana.!
    Wassallam

  7. 7 agust
    November 28, 2008 pukul 5:41 pm

    maaf sedikit komentar.
    Saya pernah tinggal sekitar 2 tahun di sebuku dan saya pasti tahu bagaimana kondisi baik masyarakat maupun masa depan pulau tersebut dari kacamata saya.
    kalau bicara soal perekonomian masayarakat disana memang tdk bisa dipungkiri 75 % mapan,artinya kalau dia seorang karyawan perusahaan dia sdh berhak mendapat gaji antara 1,5-3,5 jt Rupiah dan sebagai gambaran besar rata2 penduduk sana sdh mempunyai sepeda motor bahkan sepeda motor berlabel 25 jtan,walaupun disana pemakainnya sangat tdk efisien karena lingkungan masyarakat dengan perusahaan hanya berjarak 2km dan ad BUS transport dr perusahaan untuk antar jemput.
    25% yang bukan karyawan adalah nelayan dan buruh angkut dipelabuhan, menurut pengamatan saya petani tdk diminati disana karena banyak kebun karet yg malah terlantar tdk diurus.
    yang kelompok ini kelihatannya masih jauh apa yg dikatakan mapan menurut tkt perekonomian disana.tdk layaknya seperti buruh dikota besar maupun nelayan ditempat lain.
    Yang memprihatinkan saya,masyarakat disana sepertinya tdk perduli dengan kelangsungan hidup dipulau tersebut,bagaimana tdk apabila perusahaan nanti sdh habis apa yg bisa dikelola disana.
    Bayangkan kalau kita masuk keareal PT.BCS ssampai ketambang,Bagu ,Serakaman disepanjang jalan kita akan melihat penuh dengan danau-danau bekas tambang.
    Hutan hutan bakau yang tumbuh disepanjang pantai sudah tdk hidup lagi karena disepanjang pantai dari Perimeter Selatan sampai Barat itu dibuatkan Banwall untuk menahan air laut tdk masuk.
    Saya berfikir kenapa masyarakat hanya menerima pembebasan lahan hanya 2Jt perhektar tanpa memikirkan kerusakan ekosistem yg bibuat perusahaan,sementara perusahaan bisa memproduksi batubara 3 juta ton setahun(1 ton =500.000) =150 milyard.sangat tdk sebanding.
    saya pernah ngobrol dengan teman2 disana kenapa tdk ditawarkan dengan sistem premi.mis :1 ton Batubara perusahaan wajib membayar rp.10.000 /ton = 10.000×3.000.000 ton =150.000.000.000
    akan dibagikan kependuduk yg hanya 5000 jiwa =1jiwa mendapat Rp 6000.000 per tahun.
    Tetapi yg saya tawarkan ke mereka sepertinya tdk ditanggapi,maklum mereka sdh terlena dengan apa yg diberikan oleh pengusaha disana,
    tapi tunggu beberapa tahun yg akan datang,untuk menyelamatkan diri harus keluar dari pulau sebuku.Dan saya bukan asli orang sebuku,hanya melakukan riset saja.
    Mudahan2an dengan posting ini bisa bermanfaat buat kita semua,terimakasih.

  8. 8 agustin
    Desember 1, 2008 pukul 10:32 am

    saya tambahkan komentar saya,

    Teman-teman saya masih banyak disana khususnya PT.BUMA KONTRAKTOR PT.BCS,dan khabar terkini dr teman2 saya bahwa tambang sekarang yg berada di Tanah Putih sudah hampir tdk Produktif lagi karena lahannya sdh mulai habis dan waktu saya tinggalkan jg memang kondisi lahan dari perimeter(pantai) Barat sampai Selatan sdh ditambang semua dan sepanjang pantai jd danau danau besar.
    dan issue yang beredar dimasyarakat adalh bahwa desa serakaman adalah lahan rebutan pengusaha2 termasuk PT.BCS yang sdh lama mengetahui di Desa Serakaman itu sangat potensial dengan batubaranya.
    Tentunya masyarakat akan direlokasi ketempat baru,memang masyrakat kelihatannya tdk mempermasalahkan mereka dipindah yg penting ada kesepakatan kedua belah pihak.karena sepanjang yang saya tahu belum ada protes dr masyarakat yg menolak pembebasan lahan.
    Saya hanya berfikir akankah Pulau yng sekecil itu akan habis dan penuh dengan danau2 berceceran?
    Bukan tdk mungkin Pulau Sebuku nantinya tdk bisa memberikan kehidupan lagi kpd masyarakat disana.
    Kita hanya berharap pemerintah tentunya lebih bijak menyikapi keadaan disana,dan ini akan lebih baik lagi kalau kita masyarakat turut melakukan kontrol thd lingkungan kita.
    anda bisa Bayangkan Pulau sebuku 10 Thn yg lalu dengan sekarang kemudian bayangkan 10 tahun kemudian.
    itu saja sich yg bisa saya komentari,terimakasih.

  9. 10 Juriah
    Januari 30, 2009 pukul 12:45 pm

    Membaca ulasan dr mas/kanda, atw adinda Agus sy yg sdh hampir 12thn mNinggalKn kampung halaman tSbt (sy lahir d sarakaman tangah) mrasa sngt miris & ngeri mmbayangKnx.
    Sgt mNgerikan dampak dr tambang” (yg ktx ada 4 buah tambang) d sebuku..

  10. 11 Juriah
    Januari 30, 2009 pukul 1:07 pm

    Mnanggapi komentx si Zorro, y maaf sblmy.. Tp sy jg sgt tdk sPendpt dgn anda!
    Tarap hdp d sbuku itu relatip! Dr sisi mn sudut pandang kita/indipidu.
    & bknx sombong atw munafik, tp sy rasa sgt jrg ad org yg mau atw bHarap trGusur dr kampung tanah klahirN!!

  11. 12 daus
    Maret 20, 2010 pukul 3:26 am

    salam hangat….

    kita sebagai masyarakat yang sangat memerlukan pekerjaan disamping pekerjaan yang senantiasa idak menentu sangat dilematis, walaupun terkadang untuk bertambak dan sebagai nelayan sirasa sangat tidak mendapatkan penghasilan yang mencukupi, tetapi dengan datangnya PT. SILO dirasa juga sangat berperan penting karena sebesar 70% tenaga lokal akan diserap disana dan itu sangat membantu untuk SDM lokal, juga sangat membantu dalam mencukupi bidang kebutuhan sehari-hari, hal ini juga dirasa oleh tenaga kerja dari daerah kotabaru, trus….yang harus kita pikirkan bersama adalah bagaimana agar PT.SILO ini terus mengupayakan pengelolaan limbah yang sesuai Amdal, pengelolaan limbah yang tidak berdampak sistemik terhadap lingkungan, juga ramah lingkungan..limbah yang bisa dikembalikan kembali ke alam, bukan hanya mengeruk dan mencari keuntungan semata, tanpa memperhatikan kesejahteraan masyarakat sekitar perusahaan…

    salam kembali

    daus


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: