Arsip untuk Mei, 2007

21
Mei
07

Cerita tentang Pertambangan Biji Besi di Kabupaten Tanah Laut

 

“Empat hari lalu, seorang warga RT 2 yang sakit parah meninggal di tengah perjalanan saat hendak dibawa ke RSUD Boejasin Pelaihari. Ini semua karena rusak parahnya jalan. Perjalanan ke rumah sakit menjadi sangat terlambat,”
(Anang Ijar, warga Desa Tebing Siring, disampaikan ketika ia yang datang ke redaksi BPost, Jumat (17/3).)
Pa Anang Ijar merupaka salah seorang penduduk yang berada di lingkar pertambangan biji besi di Kabupaten Tanah Laut. Dipakainya fasilitas umum oleh Pihak perusahaan pertambangan untuk pengangkutan biji besi menyebabkan hancurnya jalan tersebut.

 

Pertambangan Biji Besi di Kabupaten ini dilakukan oleh “the only one” perusahaan Daerah PD. Baratala Agung. Namun perusahaan ini hanyalah menjadi tuan tanah saja, lahan yang diamiliki mereka berikan kepada petani (eh salah, maksudnya penambang) penggarap. Ada sekitar 6 buah perusahaan yang diberi SPK (Surat Perintah Kerja) sebagai penambang penggarap. Lahan tambang yang diberikan rata-rata dibawah 500 Ha. Saat ini pertambangan berada di Kecamatan Pelaihari.
Penambang Penggarap dari PD Baratala mampu memproduksi 40 ribu ton per bulan. Dan terus berancang-ancang untuk meningkatkan produski maksudnya meluaskan wilayah tambang kebeberapa lokasi tambang lainnya, seperti, di Desa Gunung Melati Kecamatan Batu Ampar, Desa Sungai Riam dan Tanjung Kecamatan Pelaihari.
Jika dibandingkan dengan kabupaten lain memang Bijih besi dari daerah ini memang tergolong kualitas terbaik. Kadar besi (Fe)nya bisa mencapai 63, sementara di kabupaten lain rata-rata hanya 58.
Cerita tentang perusahaan cukup disini dulu ya, sekarang kita coba jalan-jalan kewilayah tambang dan desa di lingkar (maksudnya disekeliling) pertambangan. Tarik mang….
Sekarang kita sudah masuk desa Tebing Siring, di jalan kita bertemu beberapa truk pengangkut biji besi. Jalan ini memang bukan jalan tambang namun merupakan jalan propinsi. Jangan heran dan tidak usah mengigat-ingat mengenai UU Pertambangan, sebab walaupun sudah diperintahkan penambang harus membuat jalan sendiri tapi itu tidak digubris, lagian pikir mereka perusahaan daerah ini. Sudah umum kok di Kalsel angkutan tambang lewat jalan negara (nanti deh..kami ceritakan mengenai penggunaan jalan umum oleh penambang).
Sekarang kita kembali ke jalan, aduh….hancur…kalau pa Anang Ijar yang merupakan salah seorang warga Tebing Siring bilang “Setengah mati saat melewati jalan ini. Sepeda motor tidak akan bisa lewat,”. Masyarakat setempat yang sebagian besar petani belakangan ini kesulitan memasarkan hasil-hasil pertanian mereka. Tidak hanya itu, proses belajar mengajar terganggu karena para guru sulit datang. Tapi itu belum seberapa, ada cerita pa Anang yang menyayat hati kami, empat hari lalu, seorang warga RT 2 yang sakit parah meninggal di tengah perjalanan saat hendak dibawa ke RSUD Boejasin Pelaihari. “Ini semua karena rusak parahnya jalan. Perjalanan ke rumah sakit menjadi sangat terlambat,” sesal Anang.

Beruntung desa ini memiliki Kades Hamdi Hasan, seorang pimpinan yang aspiratif, atas desakan warga ia mau menegur perusahaan pertambangan melalui surat secara resmi yang meminta agar aktivitas dihentikan hingga badan jalan diperbaiki pada tanggal 27 Januari ditandatangani Kades Hamdi Hasan. Surat ini ditujukan kepada enam perusahaan penambang bijih besi. Namun pada saat ini (maksudnya tanggal sumber tulisan) tidak ada tanggapan dari pihak perusahaan.
Cukup ya cerita dari pa Anang, sekarang kita ke Desa Sumber Mulya. Hal yang sama dengan desa sebelumnya kami temui, badan jalan rusak, dan sejumlah rumah warga yang berada di sisi jalan terus menerus tersaputi debu. Masyarakat berani protes, walaupun kesannya masih malu-malu. Mereka membuat perjalannya truk pengangkut biji besi sedikit terganggu dengan cara menghamburkan kayu dan batu besar di sepanjang jalan yang dilewati. Harapannya truk tersebut tidak ngebut sehingga sebaran debu yang ditimbulkan tidak terlalu parah. Tanggapan Perusahaan atas tindakan kecil ini, mereka hanya bisa berjanji akan menyirami jalan tersebut supaya tidak berdebu lagi
Ternyata tidak cuma jalan yang rusak, sungaipun begitu. Celakanya sungai Tabonio merupakan sumber air baku PDAM Pelaihari. Menurut pihak PDAM Sungai Tabonio tercemar oleh limbah penambangan biji besi. Hasil pemeriksaan laboraturium, Sungai Tabonio tercemar oleh Fe (besi). Kadarnya mencapai 25,356 miligram per liter dari standar baku mutu (batas ambang) 5 mg. Tapi hebat dong ya orang Pelaihari, mungkin suatu saat akan lahir gatot kaca pelaihari, manusia berurat besi…he…becanda coy. Tapi kondisi ini tidak bisa dianggap remeh ini logam berat, bayangkan 5 kali lipat dari kadar standart
Bupati Tanah Laut pernah juga jalan-jalan kewilayah tambang. Drs, H, Adriansyah tertegun dibuatnya, Bupati melihat langsung dasyatnya kerusakan lingkungan akibat pertambangan biji besi. Pemandangan Pohon pohon besar tumbang, sungai yang tersumbat, sungai berubah arah dan sungai berair hitam (bukan ekosistem air hitam tapi memang airnya keruh). Bereaksikah bupati atas yang dia lihat, eitt jangan salah duga dulu, ternyata tidak?. Ha…kenapa, justru pemerintah berencana merubah tataruang yang antara lain akan menggeser batas Taman Hutan Raya (Tahura) Sultan Adam sehingga pertambangan bisa masuk kedalam kawasan yang dulunya hutan. Pemerintah juga mengusulkan revisi atas SK Menhutbun Nomor 453/1999 tentang peta kawasan hutan, ya minta dikecilin gitu.
Perjalanan kemudian kami lanjutkan, tapi sebentar dulu kami mau refresing sebentar, maklum dari tadi yang dilihat jelek melulu. Kata orang dinas Pariwisata disini ada objek wisata yang keren. Di Desa Sungai Bakar Kecamatan Pelaihari ini terdapat obyek wisata gua marmer. woo…keren dong, sudah terbayang asiknya seperti diacara tv jejak petualang dong. Bergegaslah kami kesana, tapi belum sampai dikawasan itu sudah ada portal sepanjang enam meter menghalangi jalan kami. Terpampang tulisan ‘Dilarang masuk areal tambang tanpa izin pihak manajemen.’ Padahal, jalan tersebut adalah satu-satunya akses jalan darat menuju objek wisata gua marmer. Wah repot juga mau wisata harus lapor keperusahaan tambang dulu. Dari informasi masyarakat Hal ini sudah dilakukan satu setengah tahun.

Akhirnya kami masuk ke tempat wisata, seperti informasi pihak dinas Pariwisata disana terdapat jalan bertingkat dari tanah menuju gua. Namun yang ada hanya jalan tambang yang setiap saat disesaki hilir mudik angkutan tambang.
Di kegalauan akibat melihat kondisi yang ada sejenak kami terpikir, Perdulikah perusahaan pertambangan biji besi terhadap masyarakat di lingkar tambang ? Boleh jadi tidak, kenapa asumsi kami seperti itu padahal perusahaan sudah memberikan dana CD. Misalnya saja CV. Karya Bersama sudah memberikan dana CD sebanyak 3 kali terhadap masyarakat selama 2 tahun beroperasi. Pada tahun 2006 perusahaan memberikan Rp. 87,8 jt. Menurut H Kaspul yang punya CV. Karya Bersama, yakni fee desa sebesar Rp 45 juta, dengan perhitungan fee sebesar Rp 1.500 perton batubesi. Kemudian fee untuk KUD Giat Desa Tanjung sebesar Rp. 30juta atau Rp1000 perton, terakhir fee jalan alias uang debu untuk 4 dusun yang dilewati, sebesar Rp12.835.000 dengan perhitungan Rp5000 per rit.

Tapikan dana CD bukan merupakan keperdulian tapi merupakan suatu kewajiban perusahaan kepada masyarakat. Dan ternyata juga masyarakat pun tidak begitu saja mendapatkan dana CD tersebut, namun butuh perjuangan. Misalnya saja uang debu, di dapatkan masyarakat setelah mereka jadi “preman”(menurut Kaspul lho ya, bukan kami yang bilang) dengan menghadang jalan desa yang sering dilalui angkutan biji besi, setelah mereka kenyang makan debu biji besi dan jalanan selama 2 tahun, setelah menikmati menjalani lobang dan lumpur jalanan. Ternyata tidak kami saja yang beranggapan seperti itu, Anggota DPRD Kabupaten Tanah Laut yaitu H. Aus Ansyari kami baca di koran Radar Banjar 11 Maret 2006, kata dia begini “Saya prihatin, banyak penambang di daerah ini lebih menunggu masalah timbul, baru diselesaikan, sedikit yang mau mencegah terjadinya masalah sejak dini,”
Sekarang kita balik ke kota lagi ya, kita mau cari tahu apa yang sudah di dapatkan pemerintah daerah dari kegiatan pertambangan. Pihak dinas Pendapatan dengan bangganya mengatakan, sumbangan pihak ketiga (SPK) pada kuartal II (Agustus) 2006 realisasinya melonjak signifikan lebih dari 200%.Nominalnya, Rp. 554.212.180. Wah banyak ya…tapi kira-kira cukup tidak membayar kerusakan lingkungan, membayar biaya berobat gratis jika kadar Fe di dalam tubuh menjadi penyakit, atau cukup tidak ya membayar kerusakan yang ditimbulkan oleh bencana ekologis atau biaya sosial lainnya.
Industri biji besi telah banyak dilirik oleh pada investor pabrik baja di Kabupaten Tanah Laut.Tak hanya investor nasional, tapi juga dari luar negeri belakangan mulai berdatangan, di antaranya, Trans Pacific Mercantile (TPM) Ltd dari Hongkong.TPM Ltd berencana menanamkan investasinya dalam skala menengah. Karena itu, tungku peleburan bijih besi yang akan dibangun sebanyak 10 unit. Kapasitas satu unit tungku, 25 MT/HK per bulan. Jadi, produksi yang akan dihasilkan dalam satu bulan sekira 625 MT/25. Wah berapa banyak batubara yang harus disediakan ya. Kok omongannya ke batubara, ya ia lah kan bahan bakar tungku tersebut batubara. Jadi tambang batubara juga akan meningkat. Itu artinya sumber daya alam terus akan dikuras dan alam akan terus merana.

Terima kasih Pa’Eko (Defuti Walhi Kalsel) yang dengan semangat rajin mengirim email berita koran sehingga cerita ini dapat terbangun. Karena bahan cerita diambil dari berita koran:

(B.Post 16 Januari 2007)

(B.Post 18 Maret 2006).

(B.Post 13 September 2006)

(B.Post 7 Oktober 2006)

(B.Post 13 oktober 2006)

(B.Post 14 oktober 2006)

(B. Post 27 September 2006).

Kemudian dikemas ulang dengan “janji” tidak mengurangi substansi isi berita koran tersebut

Iklan
21
Mei
07

Cerita pertambangan biji besi di Kabupaten Kotabaru

 

“sekarang terus merugi, tambak saya seluas dua petak atau enam hektare di muara Sungai Bali, saat ini sama sekali tidak menghasilkan”.

Sebuah rintihan dari seorang H Mat Pigau (46) seorang penambak dari Desa Sungai Bali, yang memulai usaha sejak tahun 1986 dan telah menikmati berkahnya dengan naik haji tahun 1997 dan telah menguliahkan anaknya di Makasar. Dia merupakan seorang dari sekian banyak penambak yang resah sejak adanya pertambangan biji besi PT Silo di Pulau Sebuku. (B.Post, 06/01/2006)

Dimana pulau Sebuku berada ? Seandainya kamu punya peta Kalimantan atau Kalsel, coba deh liat di pojok kiri bawah. Disana terliat 2 pulau, yang besar namanya Pulau Laut sedangkan yang kecil itulah Pulau Sebuku.

Pulau Sebuku merupakan sebuah pulau kecil dengan luasan 225,5km2, secara administratif pemerintahan berada di Kabupaten Kotabaru Propinsi Kalimantan Selatan. Disitulah sekarang ini terjadi aktivitas pertambangan biji besi dilakukan untuk pertama kalinya di Kabupaten oleh sebuah perusahaan pertambangan.

Perjalanan ke Pulau ini butuh waktu yang panjang, seumpamanya kamu dari Banjarmasin, dimulai dengan naik angkutan darat ke Batulicin butuh waktu 4-6 jam. Tapi itu dulu, ngak tau sekarang karena kabarnya jalannya udah ancur-ancuran akibat sering dilalui angkutan batubara dan sawit yang bawaannya melebihi kekuatan jalan. Batulicin merupakan sebuah kota yang berada di Kabupaten Tanah Bumbu. Perjalanan kemudian bisa dilanjutkan melalui laut, bisa naik speed boat maupun naik ferry, bedanya kalau naik speed kita akan sampai di ibukota Kabupaten Kotabaru, tetapi kalau Ferry kita harus melewati jalan darat sekitar satu jam untuk sampai ke ibukota kabupaten tersebut. Dari Kotabaru perjalanan dilanjutkan kembali melalui jalan darat menuju desa Sungai Rangas dimana mangkal speedboat yang biasanya mengangkut penumpang ke Pulau Sebuku, baru setelah itu kita mengarungi selat laut. Ada 3pintu masuk ke Pulau ini, yaitu desa Sungai Bali, Kanibungan maupun Sekapung. Tarifnya jelas beda karena dipengaruhi oleh lamanya perjalanan.

Pulau ini dihuni sekitar 5000 jiwa. Mereka merupakan pendatang yaitu dari suku Banjar yang umumnya orang daerah hulu Sungai, Suku Bugis dan Bajau. Kata penduduk setempat dulunya ada penduduk asli yang mereka sebut “orang pulau”. Namun setelah penduduk pendatang makin banyak menghuni pulau ini penduduk asli menghilang entah kemana. Sampai sekarang penduduk pendatang sudah mencapai turunan kelima.

Pola pemukiman mereka pun menunjukkan karekter penduduk Sebuku, di daerah Pantai didominasi oleh Bajau, kemudian agak kedalam didominasi oleh orang bugis dan ditengah didominasi oleh orang Banjar.

Bajau kerjanya Nelayan, Bugis kerjanya juga nelayan dan sedikit bertani dan berternak (perairan dan darat) dan banjar Bertani. Begitu sih umumnya.

Kembali ke cerita inti, mengenai pertambangan biji besi disana. Pertambangan dilakukan oleh sebuah perusahaan nasioal, PT. Silo nama perusahaan tersebut.

PT. SILO (Sebuku Iron Lateritic Ores) merupakan sebuah perusaan yang bergerak di industri pertambangan besi dan industri baja. PT. Silo bukanlah perusahaan yang pertama kali mengeruk sumber daya alam di Pulau Sebuku, namun sudah ada dua perusahaan pendahulunya.

Diawali oleh penebangan kayu oleh PT. Inhutani II, perusahaan ini memiliki konsesi (itu lo.. hak melakukan “pengelolaan” hutan ) satu pulau penuh. Penebangan dihentikan setelah kayu habis sekitar tahun 80-an.

Setelah kayu habis, eksloitasi sumber daya alam terus berlanjut dengan datangnya PT. Bahri Cakrawala Sebuku. Sebuah perusahaan pertambangan dari negeri Australia. Mereka mengerukan rawa dan mangrove untuk mendapatkan batubara. Tidak cuma di lahan milik masyarakat yang di obok-obok, tapi kawasan Cagar Alam pun dihajar. Perusahaan ini diberi pemerintah 50% dari pulau Sebuku atau 11.980 Ha. Aktivitas perusahaan dimulai pada tahun 1996 dan sampai sekarang masih bekerja. Pengiriman pertama hasil bumi Sebuku dilakukan pada tahun 1998.

Tahun 2000 SILO masuk kepulau ini dan mulai melakukan pengerukan pada tahun 2004. Mereka di beri pemerintah lahan seluas 9.000 Ha untuk diambil biji besinya.

Kalau dihitung-hitung luasan PT. BCS dan PT. Silo maka lahan yang tersisa hanyalah kurang dari 7% dari total luas pulau atau 1.570 Ha. Lahan seluas itulah yang dimanfaatkan sekitar 5.000. Itu belum dikurangi Cagar Alam, Gunung Batu dan lahan yang tidak bisa digunakan.

PT. Silo tidak menyia-nyiakan lahan yang diberikan pemerintah. Mereka terus mengeruk 24 jam perhari dan 7 hari perminggu. Sehingga mereka sanggup mengambil 2000-2500 ton perhari atau 2 juta ton pertahun yang siap mereka bawa ke Cina dan PT. Krakatau Steel

PT. Silo di pulau ini mengambil Laterite Ore (biji besi) yang didalamnya mengandung besi 56%, silikon, aluminium, Cromim dan Nikel. Di Pulau ini di perkirakan memiliki 500 juta ton. (Profil PT. Silo, 03/12/94)

Sudah pada tahu belum seperti apa bentuk biji besi, nah kalau belum tahu saya akan ceritakan sedikit. Biji besi berbentuk bongkahan dan serbuk. Nah yang di Pulau Sebuku berbentuk serbuk. Serbuk biji besi terdapat sampai di top soil tahah, jadi mau ngak mau terpaksa mereka keruk semua tanah untuk kemudian dipisahkan. Tidak seperti tambang barubara, tanah atasnya dikupas lalu batunya diambil.

Lalu bagaimana ya cara mereka menutup bekas galian tersebut, kalau semua tanahnya diambil. Dari mana mereka mencari tanah untuk menutup bekas galian tersebut jika tanahnya tidak ada, wah bisa akan banyak danau dong di Pulau ini.

Keberadaan pertambangan di Pulau ini oleh masyarakat dirasakan beragam. Ada yang H2C (Harap-harap cemas maksudnya), ya gitu. H2C kaya mendadak karena akan dapat uang ganti rugi gusuran lahan dan kebun, H2C tidak nganggur lagi karena ada peluang kerja, H2C ada tambahan pendapatan bagi aparat desa. Dan masih banyak rasa lainnya. Termasuk kecemasan yang di utarakan oleh Pa’haji Mat Pigau seperti yang kami ceritakan diatas.

Ternyata Pa’ Haji tidak sendiri, Pa’ Andi Abdurahman (56) juga memiliki nasif yang sama. Padahal dia menggeluti pekerjaan tersebut sejak 1983 ini. Kata dia, ini pengalaman pertama. Sejak ia jadi penambak menemui air kolam berubah warna menjadi kuning dan keruh, banyak ikannya yang mati.”Kalau penyebabnya hingga saat ini kami tidak mengetahui dengan pasti, yang jelas kata orang ini karena pencemaran limbah”.

Tapi kemungkinan itu bisa saja terjadi, karena sejak PT SILO beroperasi di daerah ini, air tambak berubah disusul dengan ikan yang tidak mau besar dan mati,”katanya. Memang terlihat air laut berwarna kuning akibat edapan lumpur berwarna merah pekat, saat air surut lumpur muncul ke permukaan sekitar 500 meter sepanjang pantai dan 30 meter ke lepas pantai. Menurut masyarakat hal ini mulai terjadi setelah pelabuhan biji besi ini berfungsi. (B.Post 16 januari 2006)

Hal juga yang dirasakan oleh nelayan pencari Nener terbesar ketiga di Indonesia tahun 1980. Mereka memulai usaha sejak 1970 namun setelah beroperasinya PT. SILO mereka mulai kesulitan mendapatkan bibit nener (bibit bandeng) dan benur (bibit udang windu). (B. Post, 20 januari 2006).

Namun keresahan para petambak dan nelayan tersebut ditanggapi sinis oleh sang kepala desa Sungai Bali A Said HR. Kata dia “isu limbah pencemaran yang belum terbukti sehingga tidak usah dibesar-besarkan, karena memang belum ada pembuktian dari hasil penelitian ilmiah dari pihak terkait”. Dan menanggapi menurunnya penghasilan petambak dan nelayan sekitar dua tahun terakhir, karena memang sebagian tambak mulai ditinggalkan dan penghasilan nelayan menurun karena mahalnya operasional saat melaut pasca kenaikan BBM. Ia justru resah jika perusahaan tersebut pergi, karena menurut dia 75 persen warganya bekerja pada perusahaan tersebut.

Pro kontra ini disikapi oleh anggota Komisi C DPRD Kotabaru H Syahiduddin SAg. Dia  kemudian menyiapkan tim untuk meninjau langsung ke lokasi untuk mengetahui secara pasti permasalahan di sana. (B.Post 23 Januari & Radar Banjarmasin 25 Januari).

Datanglah Ir Suhaili Asmawi MS, dari Fakultas Perikanan beserta tim penyelamnya untuk melihat kondisi sebenarnya di pulau tersebut. Dari hasi penyelaman mereka menemukan biji besi di perairan tersebut. Dia mengatakan air laut berwarna merah akibat pencucian besi sulfat. Namun dia membantah keresahan masyarakat “Sementara, anggapan menurunnya jumlah nener dan benur di lokasi tersebut kemungkinan karena berkurangnya kelimpahan larva,” jelasnya.

Dia juga mematahkan keresahan penambak “Masalah, pertumbuhan ikan bandeng kurang baik di kawasan tersebut, menurutnya, hanya karena rendahnya ketersediaan makanan yang cocok bagi bandeng sebagai akibat daya dukung lahan sudah mulai berkurang. (B.Post 10 Maret 2006). (radarbanjarmasin 11 Maret 2006).

Penjelasan sang dosen seperti ini “Banyaknya bandeng yang mati pada beberapa tahun ini karena sudah rusaknya tambak itu sendiri, yang diakibatkan oleh amoniak dan asam sulfida yang tinggi. Sehingga bandeng yang berada dalam tambak tersebut mati. “Amoniak dan asam sulfida ini tercipta dari pembusukan tumbuhan yang berada dalam tambak tersebut. Akibatnya, ikan yang berada dalam tambak tersebut mati karena kadarnya sudah tinggi dan sangat membahayakan bagi ikan itu sendiri,” Pembusukan itu terjadi sebagai akibat dari proses pengeringan tambak yang kurang maksimal, sehingga tanaman yang mati tersebut masih belum terurai secara sempurna. Kemudian oleh petani tambak langsung diisi lagi dengan air, sehingga saat berada dalam air, tanaman yang belum sempurna terurai tersebut menyebabkan adanya anomiak dan asam sulfida.

Mengenai pertumbuhan bandeng yang kurang baik pada tambak masyarakat dia berpendapat karena rendahnya ketersediaan makanan yang cocok bagi bandeng. Itu terjadi karena daya dukung lahan tambak yang sudah mulai berkurang.(Radar Banjarmasin 15 Maret 2006).

Sebenarnya kami jadi bingung, bukan bingung pada penjelasan sang dosen. Tapi mengenai penambak, masa Pa’ Andi Abdurahman yang menggeluti penambakan sejak 1983 atau lebih dari dua dasa warsa belum bisa juga melakukan pengeringan.

Sekali lagi saya bingung…..
Seandainya saja hal yang sama dia lakukan berarti Pa’Andi dalam 20 tahun belakangan mengalami kerugian terus ya….tapi kan tidak. Atau pa’Andi sudah pikun sehingga salah melakukan pengeringan…ha..ha…tanya kenapa ???

Cerita lainnya mengenai kondisi biji besi yang ditambang PT. Silo. Ternyata kadar Fe (besi) tidak seperti semula digembor-gemborkan mereka. Ketika mereka menjual ke Cina ternyata yang bisa dikomersilkan cuma 20% saja, ini dikarenakan kadar Fe dibawah 50% sehingga tidak memenuhi standar Internasional. Dengan kondisi inilah maka perusahaan kemudian berencana membangun pabrik pellet di Pulau Sebuku. Harapannya sih mampu memproduksi 2 juta ton per tahun, dan diprediksi akan terlaksana sekitar tahun 2008. Harapan lainnya bisa mengurangi ketergantungan pellet kepada luar negeri. “Saat ini 100 persen kebutuhan pellet Indonesia di import dari luar negeri seperti Brazil, Swedia dan India,” ujar Effendi,Tios, President Direktur PT SILO (Radar banjarmasin 28 Maret 2006).

Benarkah alasan mereka tersebut sehingga ingin membangun pabrik. Namun jika melihat perpetaan pertambangan biji besi di Kalimantan selatan pasti kamu akan berpendapat lain. Atau melihat dokumen uji laboraturium dari Superintending Company of Indonesia atau lebih dikenal dengan nama Sucofindo dan Sertifikat Uji Laboraturium dari laboraturium Kimia PT. Krakatau Steel (lihat di http://www.sebukuiron.co.id/).

Nanti deh kami ceritakan mengenai perpetaan pertambangan biji besi di Kalsel.
Pokoknya seru, tunggu saja.
Tentunya juga cerita tentang perkiraan dampak pembangungan pabrik terhadap kehidupan di sekitar pulau dan laut tempat bergantungnya para nelayan.
Ceritanya seperti apa.
Terus buka blog kami !!!




Iklan
Mei 2007
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031